Nama Latin Patah Tulang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Patah tulang
(Euphorbia tirucalli) (Bahasa Sanskerta: सप्तला saptala, सातला satala, Marathi: शेर-कांडवेल sher-kandvel, Sunda: susuru, Jawa: tiang urip, pacing tawa, tikel jengger, Madura: tiang jaliso, k. leso, k. langtolangan, k. tabar, Kangean: kusen potong[3]) merupakan perdu yang tumbuh di wilayah iklim tropis taruk-arid.

Deskripsi

[sunting
|
sunting sumber]

Lukisan tumbuhan patah benak

Patah tulang adalah tanaman perdu yang tumbuh tegak. Tingginya adalah 2-6 m dengan pangkal berkayu, berdahan banyak, dan bergetah seperti tetek nan berbisa.[4]
Tumbuhan ini memiliki ranting yang bulat silindris berbentuk pensil, beralur kecil-kecil berbintang terang, dan bercelup mentah. Setelah tumbuh sejengkal, akan bercabang dua yang letaknya melintang, demikian seterusnya sehingga tampak begitu juga percabangan yang terpatah-terpotong.[4]

Daunnya jarang, berselang-seling,[5]
terdapat puas ujung ranting yang masih muda, dan berukuran kecil-kecil. Berbentuk lanset, panjangnya 7-22 mm, dan cepat rontok.[4]
Penumpu daun yang sangat kerdil berkelenjar dan berbulu halus terwalak pada penggalan bawah patera.[5]

Bunganya uniseksual,[5]
tersusun dalam cawan, warnanya kuning kehijauan, dan keluar berpangkal ujung ranting.[4]
Umumnya, tumbuhan ini lebih banyak menghasilkan bunga jantan ketimbang anak uang betina. Kotong tulang berpunca puas bulan Oktober dan berdampak pada November-Desember dan pembuahan dilakukan oleh serangga.[6]

Aliran dan habitat

[sunting
|
sunting mata air]

Penyebaran nirmala tanaman ini daerah tropis Afrika, aslinya tersebar dari Angola setakat Zanzibar.[7]
Namun secara luas ditanam dan dinaturalisasi di seluruh daerah tropis dan subtropis. Di Malesia, belum dilaporkan tumbuhan ini tersebar dari Borneo dan New Guinea.[5]
Di Indonesia, ditanam ibarat tanaman pagar, tanaman solek, tanaman obat, dan tumbuh palsu. Boleh ditemukan berpunca dataran rendah hingga sreg keluhuran 600 mdpl. Tanaman ini suka gelanggang terbuka nan terkena binar syamsu simultan.[8]
Namun, habitat aslinya terdapat di semak-samun kering, dan dinaturalisasi di semak-semak, alas terbuka, dan padang rumput hingga puas kemuliaan 2 m.[7]

Baca :   Nama Obat Pemutih Badan Di Apotik

Hama dan penyakit

[sunting
|
sunting sendang]

Tanaman rantas tulang mempunyai kecenderungan untuk tidak diserang penyakit karena getahnya yang beracun. Namun, dilaporkan ada beberapa hama nan menyerang teriris tulang, merupakan
Meloidogyne incognita,
Cuscuta
spp. dan
Botrytis
spp. Tercatat,
Botrytis
spp. menyebabkan batang dan akar memburuk kontan kondisi panas dan lembap. Selain itu, gabungan antara
Meloidogyn
spp. dan
Botrytis
spp. menyebabkan dapat merusak tumbuhan kerumahtanggaan waktu singkat.[9]

Kemampuan dan manfaat

[sunting
|
sunting sumber]

Getah pohon ini berwatak asam, mengandung sintesis euforbon, taraksasterol, α-laktuserol, eufol, senyawa damar yang menyebabkan rasa tajam ataupun kerusakan sreg lendir,
kautschuk
(zat kain), dan zat ki getir. Namun, zat obat dari herba ini adalah glikosid, sapogenin, terpenoid,[10]
dan cemberut ellaf.[4]
Tumbuhan ini pula digunakan bikin meracuni ikan sehingga mudah didapat.[11]
Minyak yang didapatkan dari getahnya tampaknya berfaedah bikin eksploitasi plong linoleum, jas kain minyak dan industri kulit ulos. Kayu keras, putih, serat kayu yang padat dari tumbuhan patah tulang ini digunakan kerjakan kasok, mainan dan melapisi dengan salutan kayu halus. Hasil arangnya cocok bakal digunakan ibarat bubuk mesiu.[5]
[12]

Di Jawa, beberapa penulis mencatat tapal dari batang ataupun kulitnya dapat dipergunakan bagi memulihkan patah tulang[5]
dan menyembuhkan penyakit indra peraba.[13]
Selain itu, getah patah tulang sekali lagi dapat membebaskan duri yang tertancap dan gabungan antara umbi gadung cina dan biji pelir gondang serta getah dari pokok kayu patah lemak tulang ini dapat memulihkan frambusia.[14]
Pokok kayu kotong lemak tulang juga disebut oleh Hartwell (1969) digunakan bagaikan terapi tradisional untuk kanker, tumor, kapalan, dan bonggol di Brasil, India, Malaya, dan Indonesia. Akarnya dapat digunakan untuk mengecualikan bisa bedudak, di Maluku dan Malabar, tumbuhan ini boleh digunakan bagi merangsang muntah dan antisipilis.[15]
Sementara, Suku Kulawi di Sulawesi Paruh memanfaatkan daun berasal pokok kayu ini sebagai diuretik (peluruh air seni), temporer getahnya dapat menyembuhkan gempa bumi persneling.[16]

Baca :   Ksp Sejahtera Bersama Bermasalah

Getahnya lalu beracun, ko-karsinogenik,[17]
sebagaimana sesuru yang suatu genus dengannya. Walau demikian, getah dari sesuru mengandung zat enggak, yaitu 3-0-angeloylingenol.[18]
Apabila membiaki alat penglihatan, dapat menyebabkan kebutaan, iritasi, dan merangsang muntah apabila tertelan.[19]
Getah dari tumbuhan ini lagi boleh dijadikan racun serangga[12]
layaknya mindi boncel.[20]
Kotong tulang pun dikenal berbisa lakukan nematoda[12]
dan efektif pun terhadap larva
Aedes aegypti
dan
Culex quinquefasciatus,[21]
sehingga tidak salah ranting patah tulang yang sudah kersang bisa digunakan untuk mengintimidasi nyamuk gajah.[11]
Kemudian, boleh juga mematikan bakteri
Staphlococcus aureus, moluska
Lymneae natalensis
dan
Biomphalaria gabrata.[17]

Sambung tangan purwa

[sunting
|
sunting sumur]

Apabila getah tumbuhan ini memerciki indra penglihatan, basuhlah ain yang diperciki dengan air dingin selama sedikit kian 15 menit dan ulangi lagi sejumlah menit. Carilah bantuan medis apabila tidak ada sambung tangan lain. Selain itu sekali lagi, air kelapa maupun santan dapat juga digunakan kerjakan membasuh mata nan terpercik oleh pulut dari pohon ini.[19]

Apabila tertelan, dapat menyebabkan rasa terbakar plong pengecap, mulut, dan bibir.

Galeri

[sunting
|
sunting sumber]

Tatap lagi

[sunting
|
sunting sumber]

  • Daftar jenis-jenis minyak sayur
  • Biodiesel

Pustaka

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^

    Haevermans (2004).
    Euphorbia tirucalli.
    2006 IUCN Red List of Threatened Species. IUCN 2006. Diakses 11 May 2006. Database entry includes justification for why this species is of least concern

  2. ^


    Euphorbia tirucalli
    L”.
    Germplasm Resources Information Network (GRIN) online database
    . Diakses tanggal
    16 March
    2010
    .





  3. ^

    Dalimartha 2007, hlm. 89.
  4. ^


    a




    b




    c




    d




    e



    Dalimartha 2007, hlm. 90.
  5. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    “Euphorbia tirucalli L”. Prohati. Diarsipkan dari versi ceria copot 2016-03-04. Diakses terlepas
    1 January
    2013
    .





  6. ^

    Owen
    et al.
    2009. hal.1
  7. ^


    a




    b



    Owen
    et al.
    2009. hal.2

  8. ^

    Dalimartha 2007, hlm. 89-90.

  9. ^

    Mwine & van Damme 2011, hlm. 4908-4909.

  10. ^

    Ohyama et al. 1984, hlm. 21.
  11. ^


    a




    b



    Anonim 2012, hlm. 35.
  12. ^


    a




    b




    c



    Owen
    et al.
    2009. hal. 3

  13. ^

    Mwine & van Damme 2011, hlm. 4910.

  14. ^

    Dalimartha 2007, hlm. 91-92.

  15. ^


    “Euphorbia tirucalli L”. Purdue University. 6 January 1998. Diakses tanggal
    1 January
    2013
    .





  16. ^

    Hidayat 2005, hlm. 113.
  17. ^


    a




    b



    Mwine & van Damme 2011, hlm. 4912.

  18. ^

    Dalimartha 2007, hlm. 136.
  19. ^


    a




    b



    Dalimartha 2007, hlm. 92.

  20. ^

    Dalimartha 2007, hlm. 67.

  21. ^

    Rahuman
    et al. 2008, hlm. 873.
Baca :   Nama Lain Bunga Forget Me Not

Bacaan

  • Inkognito (2012).
    Ayo Mengenal Tanaman Obat. Jakarta: Badan Investigasi dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian berkerja seperti mana IAARD Press. ISBN 978-979-8191-73-2.



  • Dalimartha, Setiawan (2007).
    Atlas Tanaman Pembeli Indonesia.
    3. Depok: Puspa Swara. ISBN 979-1133-14-X.



  • Hidayat, Syamsul (2005).
    Ramuan Tradisional ala 12 Etnis Indonesia. Jakarta: Penebar Swadaya. ISBN 979-489-944-5.



  • Rahuman, A. Abdul; Gopalakrishnan, Geetha; Venkatesan, P.; Geetha, Kannappan (2008). “Larvicidal activity of some Euphorbiaceae plant extracts against Aedes aegypti and Culex quinquefasciatus (Diptera: Culicidae)”.
    Parasitology Research.
    102
    (5): 867–873. doi:10.1007/s00436-007-0839-6. ISSN 1432-1955.



  • Mwine, Julius; van Damme, Patrick (2011). “Euphorbia tirucalli
    L. (Euphorbiaceae) – The miracle tree: Current status of avaible knowledge”
    (PDF).
    Scientific Research and Essays.
    6
    (23): 4905–4914. doi:10.5897/SRE10.1143. ISSN 1992-2248.



  • Ohyama, Kanji; Ochida, Yuko; Misawa, Norihiko; Komano, Tohru; Fujita, Minoru; Ueno, Tamio (1984). “Oil body formation in
    Euphorbia tirucalli
    L. cell suspension cultures”.
    Plant Cell Report.
    3
    (1): 21–22. doi:10.1007/BF00270222. ISSN 1432-203X.



  • Owen; et al. (2009),
    Euphorbia tirucalli
    (PDF)
    (brochure), 4.0 (dalam bahasa Inggris), Agroforestry Database, hlm. 1–5





    [
    pranala nonaktif permanen
    ]



Nama Latin Patah Tulang

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Patah_tulang_%28tumbuhan%29

Check Also

Kerajinan Tangan Dari Kaleng Susu

Kerajinan Tangan Dari Kaleng Susu. Punya hobi dibidang kerajinan dan kreativitas, mau punya penghasilan lebih …